Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 29 Februari 2012

SEJARAH JURNALISTIK

Berbagai literatur tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Acta Diurna” pada zaman Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM). “Acta Diurna”, yakni papan pengumuman (sejenis majalah dinding atau papan informasi sekarang), diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”. Sebenarnya, Caesar hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, atas peritah Raja Imam Agung, segala kejadian penting dicatat pada “Annals”, yakni papan tulis yang digantungkan di serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya. Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acta Diurna”. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum” (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum. Berita di “Acta Diurna” kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para “Diurnarii”, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan “Acta Diurna” itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan. Dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”, “catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan). Dalam sejarah Islam, cikal bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh. Saat banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal beserta sanak keluarga, para pengikut yang saleh, dan segala macam hewan. Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk memantau keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Sang burung dara hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun dipatuk dan dibawanya pulang ke kapal. Nabi Nuh pun berkesimpulan air bah sudah mulai surut. Kabar itu pun disampaikan kepada seluruh penumpang kapal. Atas dasar fakta tersebut, Nabi Nuh dianggap sebagai pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) pertama kali di dunia. Kapal Nabi Nuh pun disebut sebagai kantor berita pertama di dunia.

Senin, 27 Februari 2012

PEACE JOURNALISM ALA MOCHTAR LUBIS


Mochtar Lubis, sebuah nama yang akan selalu dikenang dalam jagad jurnalisme Indonesia. Ia tidak hanya seorang wartawan (jurnalis) yang meliput untuk kepentingan media tempatnya berkerja. Namun, ia menulis untuk pemanusiaan manusia. Sebuah kerja jurnalisme yang tidak banyak dimiliki oleh seorang wartawan biasa. Salah satu bukti dari kerja pemanusiaan manusia ini tercermin dalam karya Catatan Perang Korea. Buku yang terbit pertama pada tahun 1951 bercerita tentang pengalaman Mochtar Lubis dalam meliput pertumpahan darah di Korea. Ia berangkat ke Korea atas undangan Persarikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Undangan ini tentunya bermakna bahwa Mochtar Lubis merupakan wartawan berlisensi yang diakui dunia. Reputasi jurnalistik yang mendunia telah menghantarkan Mochtar Lubis pada peliputan yang berisiko, yaitu perang. Perang digambarkan oleh wartawan Indonesia Raya sebagai “keruntuhan peri kemanusiaan”. Hal ini karena setiap saat ia melihat rintihan, tangisan, dan mayat terbujur kaku. Kondisi perang menjadikan seseorang hanya memiliki dua pilihan. tetap hidup atau mati. Kondisi ini semakin diperparah oleh penderitaan masyarakat sipil yang merupakan korban utama.

BAGAIMANA MENJADI PENULIS YANG BAIK ?


Butuh kearifan untuk menghasilkan sesuatu yang istimewa. Oleh karena itu, para blogger sebaiknya perlu melakukan hal-hal seperti dibawah ini:
1. Menulis itu Butuh Kesabaran 
Menjalani aktivitas blogging apabila tidak diiringi dengan  kesabaran bisa  membuat Anda frustasi. Dibutuhkan mental yang kuat untuk menjalani tahapan-tahapan panjang sebelum Anda menjadi seorang blogger profesional. Anda juga perlu sabar dalam menulis konten, termasuk memilih konten yang memotivasi Anda untuk menulisnya. Untuk menghasilkan postingan yang baik, dibutuhkan tekhnik menulis yang baik pula. Untuk menjadi penulis konten yang bagus, anda harus memiliki ilmu yang mumpuni. Dan ilmu bisa didapat dari banyak membaca dan mencoba hal-hal baru.
2. Menulis Secara Konsisten
Menulislah secara konsisten dan terbitkan pos baru setiap saat. Untuk batasan waktu posting bisa Anda atur sendiri. Misalnya setiap dua hari sekali atau malah lebih baik apabila bisa setiap hari sekali. Tapi lakukan itu secara konsisten, hingga pembaca  mengerti situasi blog anda. Mereka akan menunggu itu. Selain itu pula google suka blog yang update secara stabil. 
Untuk menjadi penulis blog yang konsisten, terapkan tips di bawah ini: 
1. Menjadi ahli di ceruk pasar (niche)
2. Buat  kalender jadwal kerja/blogging/posting 
3. Bawa selalu catatan kemana saja pergi untuk coret-coret setiap ide                              biar tidak terbang terbawa angin 
4. Rajin membaca blog orang lain di ceruk pasar yang sama 
5. Riset jangan lupa yah
3. Tulislah dengan bagus 
Setiap penulis membutuhkan proses pembelajaran sebelum bisa menjadi penulis yang baik. Seorang blogger yang baik perlu untuk berlatih terus-menerus dan mengevaluasi perkembangan tulisannya. Sehingga ia bisa mengetahui sudah sejauh mana kemajuan dan progress tulisan. Tidak boleh dilupakan bahwa bahasa adalah elemen penting bagi blogger yang akan dituliskan menjadi pos. Untuk itu dibutuhkan perbendaharaan kata atau kalimat agar Anda lancar dalam berkreasi menuliskan konten. Belajarlah menulis dengan setiap kesalahan yang Anda buat. Ejaan pun penting untuk dikuasai, agar susunan kalimat menjadi manis dan bagus. 


JADI PENYIAR RADIO YANG BAIK

Kamu penyiar radio atau temennya penyiar radio terus pengin jadi penyiar radio? Ketika akan memulai siaran radio. Jangan lupakan langkah-langkah berikut ini. Sederhana, namun menentukan kesuksesan siaranmu :

Hadir di studio minimal 15 menit sebelum siaran. Cek semua perangkat siaran dengan ”mengintip” penyiar sebelum kamu. Barangkali ada masalah di mike, headphone, line telp, SMS, de el el? Cek juga barangkali ada materi siaran “titipan” dari PD atau dari bagian lain, termasuk adakah ”iklan baca” (adlibs)? Jika ada, pelajari, biar saat menyampaikan kepada pendengar, kamu sudah familiar betul dengan informasi tersebut. Sempatkan baca koran hari itu, jika belum baca; dan sempatkan cek berita terbaru di internet, buka situs berita online, dan cari berita terbaru, ter-up to date, bisa dari sumber manapun khususnya berkenaan dengan materi siaran. Usahakan cari dari beberapa sumber berbeda agar lebih banyak referensi. Anda adalah ”referensi” pendengar dalam hal info terbaru. Pendengar mengasumsikan radio adalah gudang info, selain gudang lagu, karenanya menjadi rujukan bagi ketersediaan info terbaru. Pastikan kamu rileks, tenang, tidak tegang, tidak gugup, juga tidak dalam kondisi tertekan. Jika agak gugup, tarik nafas. Lakukan teknik pernafasan dasar. Duduk senyaman mungkin di kursi siaran; cari posisi ternyaman; layaknya kamu bersiap untuk santap malam di sebuah kafe, resto, atau di rumah. Don’t slouch! Jangan duduk membungkuk! Tegak! Jangan sampai perut kamu tertekan. Jika sabuk kamu terlalu kencang, longgarkan. Bebaskan perut kamu biar suara diafragma keluar dengan baik. Duduk membungkuk dapat memengaruhi kualitas suara/vokal karena diafragma tertekan. Pastikan semua perangkat siaran berfungsi dengan baik; komputer, music player, dll. Jika kamu siaran setelah penyiar lain, biasanya kamu tenang-tenang saja, karena menganggap semuanya berjalan baik; everything is OK - unless they say different!

Rabu, 22 Februari 2012

Esai


Jika kita lihat dari bentuknya, esai mirip sekali dengan opini. Esai membahas masalah sesuai dengan pendapat si penulis. Jadi, satu masalah dapat ditulis menjadi karangan esai yang berbeda. Perbedaan ini sesuai  dengan pendapat masing-masing. Esai berusaha meyakinkan pembaca untuk menerima pendapat penulis. Esai membahas berbagai masalah baik itu masalah yang penting ataupun masalah yang biasa-biasa saja. Misalnya saja, novel yang baru terbit atau suara tangisan bayi yang baru lahirpun dapat dijadikan esai. Esai cenderung sederhana, padat dan focus pada masalah. Penulisan kalimat esai tergantung pada kekhasan penulis yang bersangkutan. Setiap penulis memiliki cirri yang berbeda. Perbedaan tersebut terlihat pada gaya kalimat yang dibuat pada esai yang ditulis. Nah, perbedaan itulah yang membuat esai semakin variatif dan banyak.

Selasa, 07 Februari 2012

# WARTAWAN ITU SEPERTI KAMUS BERJALAN #

            Pertanyaan mendasar bagi orang yang ingin menjadi wartawan adalah apa sih untungnya jadi wartawan? Memang tidak banyak yang tahu peran wartawan, namun tanpa disadari wartawan merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan kita, apalagi di era globalisasi saat ini.
    
Pemberitaan wartawan selalu kita jumpai di mana-mana. Sebab itu, mau tidak mau, wartawan termasuk pemasok utama kebutuhan kita sehari-hari terutama terhadap informasi. Tidak banyak syarat menjadi wartawan, tetapi jangan pernah menganggap profesi kuli tinta itu mudah karena setiap hari mereka menghadapi tantangan berbeda, bahkan terkadang dilematis.
   
Menjadi wartawan mungkin dianggap profesi kurang menarik bagi sebagian orang. Sebab, layaknya pemburu berita, wartawan harus rela lalu lalang mencari narasumber. Boleh saja masyarakat beranggapan itu sulit. Pasalnya, tidak dapat dipungkiri, terkadang masyarakat awam  menilai wartawan akan tertekan saat berhadapan dengan narasumber.
   
Ada narasumber yang membingungkan, tidak jelas, bahkan ada yang ‘menakutkan’. Walau begitu, setiap orang mampu menjadi wartawan. Meski tidak dapat dipungkiri, bakat tetap menjadi salah satu poin penting. Selain itu, wartawan butuh pengetahuan luas, rasa ingin tahu yang tinggi, dan teliti. Jika tidak, ia tak akan mampu melihat nilai berita yang unik untuk di-publish.
   
Satu lagi syarat adalah kepribadian menarik. Bukan kepribadian lucu atau baik hati. Namun, yang dimaksud di sini adalah jujur, obyektif, inisiatif, dan kreatif. Ada ungkapan yang mengatakan, kalau anda bekerja sebagai pedagang, anda baru melihat dunia ini setengahnya saja. Tapi jika Anda bekerja sebagai seorang wartawan, anda telah membuka jendela dunia ini 99 persen dan tinggal membuka satu persennya lagi untuk melengkapi kesempurnaan hidup anda.
   
Artinya, pedagang hanya mengetahui seputar dunia usahanya saja, buka dan tutup warung, tapi wartawan banyak mengetahui tentang segala informasi. Keuntungan memilih hidup menjadi wartawan cukup banyak. Percaya atau tidak, jurnalis dapat bertemu dengan banyak orang.
    
Wartawan berpeluang berbicara, makan, minum bahkan satu penginapan dengan presiden maupun selebriti yang selama ini hanya terlihat di televisi. Mulai presiden hingga tukang sapu sekali pun bisa bercengkrama dengan mereka, menulis berita, dan mempublikasikannya.
   
Anda juga mungkin tidak pernah membayangkan dalam hidup anda bisa menjejakkan kaki di kota-kota besar di Indonesia bahkan menyinggahi negara-negara di berbagai belahan dunia. Selain menjelajahi dunia dan tambah wawasan, sekarang Anda bisa nambah relasi. Siapa pun orang atau narasumber yang ditemui setiap hari adalah teman baru.
    
Namun, menjadi wartawan juga harus memiliki kesabaran dan mental sekuat baja. Yang penting, jaga nama baik sebagai wartawan karena masyarakat sangat berharap pada informasi yang Anda sajikan.

JURNALIS TIDAK AKAN HIDUP TANPA SAYA !

           Itulah sebuah pesan dari Bu Ifa, salah satu Pembina pers jurnalistik di MAN 3 kota Kediri. Kata-kata itulah yang memotivasi saya untuk terus berkarya selama saya masih bergelut di ekstrakurikuler jurnalistik di MAN 3 Kediri. Walaupun dahulunya saya tidak mengerti dan bisa dianggap masih “tabu” tentang dunia jurnalis, saya tidak pantang menyerah gitu aja. Saya terus berusaha menelusuri dan menemukan setiap hal yang berhubungan dengan jurnalis. Saya bersyukur, ternyata  Allah memberi saya jalan yang terang hingga saya menemukan berbagai informasi seputar dunia jurnalis.
          Selama bergelut di dunia jurnalis ini, saya mendapatkan banyak sekali ilmu dan wawasan. Saya bisa mempelajari banyak hal dari jurnalis. Di jurnalis inilah saya bisa lebih memahami arti sebuah kebersamaan, kekompakan dan tanggung jawab. Organisasi jurnalis inilah yang membuat saya sekarang ini jadi demam pengen jadi wartawan. Bukan karena profesi wartawan itu enak bisa ketemu artis, pejabat atau karena keenakan-keenakan yang lainnya, tetapi saya tertarik dalam hal hunting berita.
          Mungkin bagi sebagian orang hunting berita itu susah dan membosankan. Tetapi bagi saya itu adalah tantangan. Jika kita mau berhasil, ya tentunya kita harus bisa melewati tantangan dan rintangan yang menghadang kita. Bukankah ada peribahasa yang mengatakan bahwa “ tidak ada laut yang tidak berombak”….hehehe
          So, terus berkarya dan berusaha mencapai cita-cita kita walaupun banyak rintangan dan badai yang menghadang !! never give up to do your job !! (by shafa-livie)

Kamis, 02 Februari 2012

8 Syarat Jadi Wartawan

Buat kalian yang pengen bergelut dalam bidang kejurnalistikan alias pengen jadi wartawan gag perlu bingung harus sarjana jurnalistik. Soalnya, jadi wartawan itu tidak harus seorang sarjana jurnalistik, apapun jurusan kalian, kalian tetap bisa jadi wartawan. Nah, baca ini nih makanya…..^^
  1. Tidak alergi terhadap teknologi. Wartawan zaman sekarang harus fasih memakai email untuk mengirim berita, alat perekam suara, kamera foto atau video, dan mencari referensi lewat Internet.
  2. Punya naluri-ingin-tahu yang tinggi dan bukan penakut. Lebih bagus lagi kalau bernaluri sebagai detektif. Wartawan sering diancam karena tulisannya, tapi jangan lantas berhenti menulis dan putus asa gitu aja.
  3. Menguasai bahasa. Tentu saja yang terutama adalah bahasa Indonesia.
  4. Santun dan punya etika. Jadi wartawan harus tahu sopan santun dan tidak boleh meminta keterangan kepada narasumber dengan cara paksaan. Harus tahu kapan waktu yang teoat berwawancara.
  5. Disiplin waktu. Wartawan tidak boleh menulis berdasarkan mood seperti halnya seniman, karena redaksi dibatasi deadline untuk menerbitkan berita. Sering wartawan-magang gagal diterima karena selalu telat menyetor berita. Bila kau tergantung pada mood, maka pilihlah menjadi wartawan lepas atau bloger.
  6. Berwawasan luas. Untuk hal ini, sejak dulu aku sepakat bahwa penulis yang baik harus lebih dulu menjadi pembaca yang baik. Banyak wartawan daerah yang tidak mau membaca media nasional, buku-buku populer, atau mengorek isi Internet; mereka hanya membaca korannya sendiri, itupun cuma untuk melihat “beritaku terbit nggak, nih.”
  7. Jujur dan independen. Memangnya ada wartawan yang tidak jujur? Banyak, terutama di daerah. Berita bisa direkayasa sesuai pesanan narasumber. Seratusan orang demo bisa muncul di koran sebagai seribuan orang. Bupati diadukan korupsi, berita yang muncul menjadi “Ada LSM yang ingin membuat rusuh Tobasa.” Memangnya ada wartawan tidak independen? Ini paling banyak, bahkan di Jakarta sekalipun. Harian terbesar Amerika, Washington Post, menetapkan syarat bagi wartawannya: “Lepaskan dulu jabatanmu di parpol, baru bergabung dengan koran ini.” Di Balige, kabupaten lain, Medan, provinsi lain, kujamin banyak wartawan yang aktif di partai politik.
  8. Memperlakukan profesi wartawan bukan semata-mata demi uang. Profesi kuli-tinta sering disandingkan dengan seniman. Ia adalah sosok idealis, yang bekerja tidak melulu karena gaji tinggi. Pengacara bisa saja menolak bekerja kalau kliennya tidak mampu membayar tarif sekian rupiah. Aku sering menemukan wartawan yang tidak mau menulis karena narasumbernya tidak memberikan uang seperti diminta si wartawan.
“Tunjukkan pada dunia APA yang bisa kaulakukan, bukan SIAPA kau.”
 Dikutip dari : buku Menggebrak dunia wartawan [1993, Kurniawan Junaedhie]