Pages

Kamis, 02 Februari 2012

8 Syarat Jadi Wartawan

Buat kalian yang pengen bergelut dalam bidang kejurnalistikan alias pengen jadi wartawan gag perlu bingung harus sarjana jurnalistik. Soalnya, jadi wartawan itu tidak harus seorang sarjana jurnalistik, apapun jurusan kalian, kalian tetap bisa jadi wartawan. Nah, baca ini nih makanya…..^^
  1. Tidak alergi terhadap teknologi. Wartawan zaman sekarang harus fasih memakai email untuk mengirim berita, alat perekam suara, kamera foto atau video, dan mencari referensi lewat Internet.
  2. Punya naluri-ingin-tahu yang tinggi dan bukan penakut. Lebih bagus lagi kalau bernaluri sebagai detektif. Wartawan sering diancam karena tulisannya, tapi jangan lantas berhenti menulis dan putus asa gitu aja.
  3. Menguasai bahasa. Tentu saja yang terutama adalah bahasa Indonesia.
  4. Santun dan punya etika. Jadi wartawan harus tahu sopan santun dan tidak boleh meminta keterangan kepada narasumber dengan cara paksaan. Harus tahu kapan waktu yang teoat berwawancara.
  5. Disiplin waktu. Wartawan tidak boleh menulis berdasarkan mood seperti halnya seniman, karena redaksi dibatasi deadline untuk menerbitkan berita. Sering wartawan-magang gagal diterima karena selalu telat menyetor berita. Bila kau tergantung pada mood, maka pilihlah menjadi wartawan lepas atau bloger.
  6. Berwawasan luas. Untuk hal ini, sejak dulu aku sepakat bahwa penulis yang baik harus lebih dulu menjadi pembaca yang baik. Banyak wartawan daerah yang tidak mau membaca media nasional, buku-buku populer, atau mengorek isi Internet; mereka hanya membaca korannya sendiri, itupun cuma untuk melihat “beritaku terbit nggak, nih.”
  7. Jujur dan independen. Memangnya ada wartawan yang tidak jujur? Banyak, terutama di daerah. Berita bisa direkayasa sesuai pesanan narasumber. Seratusan orang demo bisa muncul di koran sebagai seribuan orang. Bupati diadukan korupsi, berita yang muncul menjadi “Ada LSM yang ingin membuat rusuh Tobasa.” Memangnya ada wartawan tidak independen? Ini paling banyak, bahkan di Jakarta sekalipun. Harian terbesar Amerika, Washington Post, menetapkan syarat bagi wartawannya: “Lepaskan dulu jabatanmu di parpol, baru bergabung dengan koran ini.” Di Balige, kabupaten lain, Medan, provinsi lain, kujamin banyak wartawan yang aktif di partai politik.
  8. Memperlakukan profesi wartawan bukan semata-mata demi uang. Profesi kuli-tinta sering disandingkan dengan seniman. Ia adalah sosok idealis, yang bekerja tidak melulu karena gaji tinggi. Pengacara bisa saja menolak bekerja kalau kliennya tidak mampu membayar tarif sekian rupiah. Aku sering menemukan wartawan yang tidak mau menulis karena narasumbernya tidak memberikan uang seperti diminta si wartawan.
“Tunjukkan pada dunia APA yang bisa kaulakukan, bukan SIAPA kau.”
 Dikutip dari : buku Menggebrak dunia wartawan [1993, Kurniawan Junaedhie]

0 komentar:

Posting Komentar