Mochtar Lubis, sebuah nama yang akan selalu dikenang dalam jagad
jurnalisme Indonesia. Ia tidak hanya seorang wartawan (jurnalis) yang
meliput untuk kepentingan media tempatnya berkerja. Namun, ia menulis
untuk pemanusiaan manusia. Sebuah kerja jurnalisme yang tidak banyak
dimiliki oleh seorang wartawan biasa. Salah satu bukti dari kerja pemanusiaan manusia ini tercermin dalam
karya Catatan Perang Korea. Buku yang terbit pertama pada tahun 1951
bercerita tentang pengalaman Mochtar Lubis dalam meliput pertumpahan
darah di Korea. Ia berangkat ke Korea atas undangan Persarikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Undangan ini tentunya bermakna bahwa Mochtar Lubis merupakan wartawan
berlisensi yang diakui dunia. Reputasi jurnalistik yang mendunia telah
menghantarkan Mochtar Lubis pada peliputan yang berisiko, yaitu perang. Perang digambarkan oleh wartawan Indonesia Raya sebagai “keruntuhan
peri kemanusiaan”. Hal ini karena setiap saat ia melihat rintihan,
tangisan, dan mayat terbujur kaku. Kondisi perang menjadikan seseorang
hanya memiliki dua pilihan. tetap hidup atau mati. Kondisi ini semakin
diperparah oleh penderitaan masyarakat sipil yang merupakan korban
utama.
Mochtar Lubis dengan apik merekam semua peristiwa itu dengan gaya
catatan harian yang menawarkan gagasan membaca ringan. Pembahasaan yang
demikian memudahkan pembaca bertualang ke era tahun 1950-an dan
seakan-seakan berada dalam situasi peperangan yang sesungguhnya.
Kepiawaian Mochtar Lubis merangkai kata pun menambah keyakinan betapa
perang hanya perbuatan sia-sia yang mematikan kemanusiaan manusia.
Mochtar Lubis melalui buku ini ingin mewartakan kepada masyarakat luas
bahwa perang Korea pada dasarnya dapat mengilhami Indonesia. Ia
menulis, “dari kisah Korea kita di Indonesia dapat belajar jika kita
mau, terutama jika kita hendak belajar, bagaimana suatu negeri bisa
hancur, jika pemimpin-pemimpin tiada dapat menolak pengaruh-pengaruh
luar yang sedang bertentang-tentangan di dunia ini”. Pengaruh luar negeri bagi Mochtar Lubis akan mengoyak kedaulatan
bangsa. Bangsa Indonesia mudah bercerai-berai oleh kepentingan kelompok
tertentu. Maka, kepemimpinan yang tegas dan berani mengatakan “tidak”
kepada asing akan menyelamatkan Indonesia dari kehancuran. Mochtar Lubis seakan telah mengingatkan pemimpin bangsa jauh-jauh hari.
Bahwa kemandirian bangsa akan terwujud ketika pemimpin mampu berdikari,
meminjam istilah Sukarno. Lebih lanjut, melalui analisis yang tajam Mochtar Lubis menulis, banyak
keburukan dan kepincangan yang terjadi di negeri ini disebabkan pula
karena manusia Indonesia tiada menguasai dirinya sendiri. Setelah
mendapatkan kemenangan perjuangan dalam bentuk kemerdekaan bangsa, maka
manusia Indonesia menghendaki pula supaya dia dengan secepat-cepatnya
dapat mengutip buah-buah kemerdekaan, yang selama ini diimpikan. Dalam
usaha memetik buah-buah kemerdekaan ini, lupalah orang pada diri, dan
terjadilah segala macam perebutan, korupsi, kekerasan, dan macam-macam
yang lain (hal 3). Mochtar Lubis merupakan sosok wartawan yang mampu mencondro masa depan,
winarah sakdurunge weruh, dalam bahasa Jawa. Catatan jurnalistik
tentang perang menjadi sarana untuk mengingatkan pemimpin bangsa. Maka dari itu, buku ini tidak hanya bercerita tentang perang Korea yang
menjadi tugas Mochtar Lubis. Buku ini bercerita tentang masa depan
bangsa jika tidak dikelola dengan baik. Pada akhirnya, mengutip catatan Ignatius Haryanto dalam pengantar buku
ini, dengan intuisinya, Mochtar meliput perang ini tidak sebagai suatu
pertarungan elit semata, tetapi terutama sekali, perang telah membuat
banyak orang tak berdosa jadi menderita. Korban semacam ini sangatlah
banyak. Kalau orang pada masa sekarang mungkin akan melihat karya
Mochtar ini sudah memasukkan perspektif peace journalism (jurnalisme
damai), di mana konflik yang terjadi dilihat oleh sang peliput dari
sisi akar masalahnya, dilihat dari dampak yang dihasilkan dari konflik.
Tujuannya untuk apa? Tujuannya agar perang tidak abadi. Perang harus
segera berhenti.





