Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 07 Februari 2012

# WARTAWAN ITU SEPERTI KAMUS BERJALAN #

            Pertanyaan mendasar bagi orang yang ingin menjadi wartawan adalah apa sih untungnya jadi wartawan? Memang tidak banyak yang tahu peran wartawan, namun tanpa disadari wartawan merupakan kebutuhan primer bagi kehidupan kita, apalagi di era globalisasi saat ini.
    
Pemberitaan wartawan selalu kita jumpai di mana-mana. Sebab itu, mau tidak mau, wartawan termasuk pemasok utama kebutuhan kita sehari-hari terutama terhadap informasi. Tidak banyak syarat menjadi wartawan, tetapi jangan pernah menganggap profesi kuli tinta itu mudah karena setiap hari mereka menghadapi tantangan berbeda, bahkan terkadang dilematis.
   
Menjadi wartawan mungkin dianggap profesi kurang menarik bagi sebagian orang. Sebab, layaknya pemburu berita, wartawan harus rela lalu lalang mencari narasumber. Boleh saja masyarakat beranggapan itu sulit. Pasalnya, tidak dapat dipungkiri, terkadang masyarakat awam  menilai wartawan akan tertekan saat berhadapan dengan narasumber.
   
Ada narasumber yang membingungkan, tidak jelas, bahkan ada yang ‘menakutkan’. Walau begitu, setiap orang mampu menjadi wartawan. Meski tidak dapat dipungkiri, bakat tetap menjadi salah satu poin penting. Selain itu, wartawan butuh pengetahuan luas, rasa ingin tahu yang tinggi, dan teliti. Jika tidak, ia tak akan mampu melihat nilai berita yang unik untuk di-publish.
   
Satu lagi syarat adalah kepribadian menarik. Bukan kepribadian lucu atau baik hati. Namun, yang dimaksud di sini adalah jujur, obyektif, inisiatif, dan kreatif. Ada ungkapan yang mengatakan, kalau anda bekerja sebagai pedagang, anda baru melihat dunia ini setengahnya saja. Tapi jika Anda bekerja sebagai seorang wartawan, anda telah membuka jendela dunia ini 99 persen dan tinggal membuka satu persennya lagi untuk melengkapi kesempurnaan hidup anda.
   
Artinya, pedagang hanya mengetahui seputar dunia usahanya saja, buka dan tutup warung, tapi wartawan banyak mengetahui tentang segala informasi. Keuntungan memilih hidup menjadi wartawan cukup banyak. Percaya atau tidak, jurnalis dapat bertemu dengan banyak orang.
    
Wartawan berpeluang berbicara, makan, minum bahkan satu penginapan dengan presiden maupun selebriti yang selama ini hanya terlihat di televisi. Mulai presiden hingga tukang sapu sekali pun bisa bercengkrama dengan mereka, menulis berita, dan mempublikasikannya.
   
Anda juga mungkin tidak pernah membayangkan dalam hidup anda bisa menjejakkan kaki di kota-kota besar di Indonesia bahkan menyinggahi negara-negara di berbagai belahan dunia. Selain menjelajahi dunia dan tambah wawasan, sekarang Anda bisa nambah relasi. Siapa pun orang atau narasumber yang ditemui setiap hari adalah teman baru.
    
Namun, menjadi wartawan juga harus memiliki kesabaran dan mental sekuat baja. Yang penting, jaga nama baik sebagai wartawan karena masyarakat sangat berharap pada informasi yang Anda sajikan.

JURNALIS TIDAK AKAN HIDUP TANPA SAYA !

           Itulah sebuah pesan dari Bu Ifa, salah satu Pembina pers jurnalistik di MAN 3 kota Kediri. Kata-kata itulah yang memotivasi saya untuk terus berkarya selama saya masih bergelut di ekstrakurikuler jurnalistik di MAN 3 Kediri. Walaupun dahulunya saya tidak mengerti dan bisa dianggap masih “tabu” tentang dunia jurnalis, saya tidak pantang menyerah gitu aja. Saya terus berusaha menelusuri dan menemukan setiap hal yang berhubungan dengan jurnalis. Saya bersyukur, ternyata  Allah memberi saya jalan yang terang hingga saya menemukan berbagai informasi seputar dunia jurnalis.
          Selama bergelut di dunia jurnalis ini, saya mendapatkan banyak sekali ilmu dan wawasan. Saya bisa mempelajari banyak hal dari jurnalis. Di jurnalis inilah saya bisa lebih memahami arti sebuah kebersamaan, kekompakan dan tanggung jawab. Organisasi jurnalis inilah yang membuat saya sekarang ini jadi demam pengen jadi wartawan. Bukan karena profesi wartawan itu enak bisa ketemu artis, pejabat atau karena keenakan-keenakan yang lainnya, tetapi saya tertarik dalam hal hunting berita.
          Mungkin bagi sebagian orang hunting berita itu susah dan membosankan. Tetapi bagi saya itu adalah tantangan. Jika kita mau berhasil, ya tentunya kita harus bisa melewati tantangan dan rintangan yang menghadang kita. Bukankah ada peribahasa yang mengatakan bahwa “ tidak ada laut yang tidak berombak”….hehehe
          So, terus berkarya dan berusaha mencapai cita-cita kita walaupun banyak rintangan dan badai yang menghadang !! never give up to do your job !! (by shafa-livie)

Kamis, 02 Februari 2012

8 Syarat Jadi Wartawan

Buat kalian yang pengen bergelut dalam bidang kejurnalistikan alias pengen jadi wartawan gag perlu bingung harus sarjana jurnalistik. Soalnya, jadi wartawan itu tidak harus seorang sarjana jurnalistik, apapun jurusan kalian, kalian tetap bisa jadi wartawan. Nah, baca ini nih makanya…..^^
  1. Tidak alergi terhadap teknologi. Wartawan zaman sekarang harus fasih memakai email untuk mengirim berita, alat perekam suara, kamera foto atau video, dan mencari referensi lewat Internet.
  2. Punya naluri-ingin-tahu yang tinggi dan bukan penakut. Lebih bagus lagi kalau bernaluri sebagai detektif. Wartawan sering diancam karena tulisannya, tapi jangan lantas berhenti menulis dan putus asa gitu aja.
  3. Menguasai bahasa. Tentu saja yang terutama adalah bahasa Indonesia.
  4. Santun dan punya etika. Jadi wartawan harus tahu sopan santun dan tidak boleh meminta keterangan kepada narasumber dengan cara paksaan. Harus tahu kapan waktu yang teoat berwawancara.
  5. Disiplin waktu. Wartawan tidak boleh menulis berdasarkan mood seperti halnya seniman, karena redaksi dibatasi deadline untuk menerbitkan berita. Sering wartawan-magang gagal diterima karena selalu telat menyetor berita. Bila kau tergantung pada mood, maka pilihlah menjadi wartawan lepas atau bloger.
  6. Berwawasan luas. Untuk hal ini, sejak dulu aku sepakat bahwa penulis yang baik harus lebih dulu menjadi pembaca yang baik. Banyak wartawan daerah yang tidak mau membaca media nasional, buku-buku populer, atau mengorek isi Internet; mereka hanya membaca korannya sendiri, itupun cuma untuk melihat “beritaku terbit nggak, nih.”
  7. Jujur dan independen. Memangnya ada wartawan yang tidak jujur? Banyak, terutama di daerah. Berita bisa direkayasa sesuai pesanan narasumber. Seratusan orang demo bisa muncul di koran sebagai seribuan orang. Bupati diadukan korupsi, berita yang muncul menjadi “Ada LSM yang ingin membuat rusuh Tobasa.” Memangnya ada wartawan tidak independen? Ini paling banyak, bahkan di Jakarta sekalipun. Harian terbesar Amerika, Washington Post, menetapkan syarat bagi wartawannya: “Lepaskan dulu jabatanmu di parpol, baru bergabung dengan koran ini.” Di Balige, kabupaten lain, Medan, provinsi lain, kujamin banyak wartawan yang aktif di partai politik.
  8. Memperlakukan profesi wartawan bukan semata-mata demi uang. Profesi kuli-tinta sering disandingkan dengan seniman. Ia adalah sosok idealis, yang bekerja tidak melulu karena gaji tinggi. Pengacara bisa saja menolak bekerja kalau kliennya tidak mampu membayar tarif sekian rupiah. Aku sering menemukan wartawan yang tidak mau menulis karena narasumbernya tidak memberikan uang seperti diminta si wartawan.
“Tunjukkan pada dunia APA yang bisa kaulakukan, bukan SIAPA kau.”
 Dikutip dari : buku Menggebrak dunia wartawan [1993, Kurniawan Junaedhie]